Memuat...

Gairah si mesin tik, atau si penulis?


Aku adalah mesin tik yang cukup tua untuk mengeluarkan suara gesekan karat setiap digunakan. Waktu terus memacu karat yang berkembang di permukaan sendi-sendiku. Meskipun tua aku masih cukup sering digunakan. Setiap aksara yang dirangkai penulis memijat-mijat tombol-tombolku. Badanku bergetar setiap kali dia melakukan itu. Lapisan tipis debu berjatuhan dari tubuhku setiap aku digunakan. Aku telah mencetak ribuan kisah, artikel, berita, dan beberapa prosa yang dialirkan penulis favoritku. Aku membayangkan, merasakan, dan hampir seperti mengalami sendiri semua kehidupan dalam kalimat yang kucetak. Si penulis sangat bergairah setiap kali dia menggunakanku. Dia mengetikkan kata demi kata sepenuh hati. Tak jarang dia dengan tak sengaja salah memijit tombolku, sehingga yang kucetak tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Emosinya sering meluap-luap ketika sedang menggunakanku, baik positif maupun negatif. Emosinya menunjukkan bahwa dia bergairah ketika menulis.
Bercerita ke belakang, aku dihadiahkan kepadanya saat dia masih sangat muda, tidak mengerti apa-apa. Dulu dia tidak tahu untuk apa aku ini, tidak mengerti untuk apa aku ini. Tak jarang dia menendang, membantingku, bahkan mengencingiku saat itu. Dia belum sadar bahwa di kehidupan ini menyakitiku sama dengan menyakiti dirinya sendiri, mengotoriku sama dengan mengotori dirinya sendiri. Aku seperti wadah baginya, lebih simpelnya seperti hadiah yang dititipkan padanya untuk menemukan tujuan hidupnya. Ketika dia mulai sedikit sadar akan wujudku, dia sedikit-sedikit belajar dan tahu kegunaanku. Baru sebatas tahu, belum mengerti apalagi memahami. Kala itu kami sering mengetik dan mencetak kata-kata yang masih ngawur. Aku merasakan bahwa dia senang menggunakanku. Banyak kejadian yang kami alami membuatku berfirasat bahwa dia akan menjadi penulis hebat pada waktunya.
Suatu waktu bertahun-tahun kemudian, kita beranjak dewasa. Dia mulai meninggalkanku, bukan terpisah. Tapi dia meninggalkan kesadarannya terhadapku. Dia banyak melakukan hal lain, dia belajar banyak di luar. Tentang hal-hal kecil. Banyak sekali hal kecil yang membuat pikirannya sedikit-sedikit bermuara pada pengertian, kesadaran akan kehidupan. Kami terus dipaksa mengalir oleh waktu, bertambah tua.
Suatu ketika dia kembali padaku dengan penuh senyuman dan ide. Bersama kami melahirkan cerita-cerita segar yang sering dipampangkan di surat kabar, mading dan tabloid. Aku mulai mengalami beberapa kerusakan saat itu. Aku merasa mengecewakannya ketika rusak, aku merasa mengecewakan diriku sendiri juga. Dia membawaku ke dokter mesin tik untuk memperbaiki fungsiku. Dia merawatku dengan kasih sayang setiap aku rusak cukup parah. Tapi kami bertekad untuk terus berusaha merintis kejayaan kecil. Ketika aku terus menua, dia sama sekali terlihat tidak terpengaruh oleh waktu. Gairahnya, keringatku, darahku, pikirannya, dan idenya yang terus tersalur deras melaluiku seperti menjadi ramuan awet muda paling mujarab baginya.
Aku terus menua. Dia tidak. Sepertinya waktu pilih kasih. Kini aku sering bersedih kala mengingat apa saja yang telah kami lahirkan untuk dunia. Hal yang hebat, juga buruk. Semuanya. Semua yang telah kami lalui membuat kita saling jatuh cinta. Terlalu cinta. Dia tidak mau memahami kenapa kami harus berpisah pada akhirnya. Kenyataan dia yang berhasil tetap terus muda dan aku yang terus menua menuju akhir selalu membuat kami lemas. Seperti memang kami adalah satu kesatuan yang hidup dalam dimensi berbeda. Aku menua oleh waktu, akan mati. Dia tidak.
Tapi kini, ketika aku adalah si mesin tik yang tua bangka, kami mengolah cerita ini. Entah kapan si nurani akan berpisah dengan ku. Mungkin ketika aku tiba-tiba rusak parah berantakan, atau sedikit-sedikit mengalami kerusakan yang akhirnya tidak bisa lagi diperbaiki. Dia akan meneruskan entah ke mana, aku menuju akhir. Semoga rangka besi, plastik, pegas, roda gigi dan segala apa pun yang ada dalam diriku bisa berguna setelah aku mati tidak bisa diperbaiki lagi. Semoga dia baik-baik saja ketika telah berpisah denganku.

Buka Lipatan...Gairah si mesin tik, atau si penulis?

POV [UNRATED]

PERMIB ON VACATION (P.O.V) ah... pasti yang otaknya bokep dan penuh www.xnxx.com kecewa hehehe
disarankan menikmati samil mendengarkan:




atau



Acara tahunan Permib ketika libur musim kemarau panjang kembali digelar. Kemarin tanggal 16 Juni 2011 hajatan barudak Permib beragkat ke Pangandaran (lagi) dengan panji-panji : 

POV son of a bitch beach berangkat dari ATM ITTelkom, pagi-pagi untuk memecah kepenatan berkuliah dan berkegiatan. 
ini lah mereka yang ingin segera mendapat tempat pengungsian...

Sepanjang perjalanan menuju Pangandaran sudah dapat ditebak banyak korban berjatuhan dalam bus...
Sare bari diawuran kueh...

Sare nnyangigir (sare miring)

Sare.. nya pokonamah sare we lah!

Ada juga kejadian-kejadian dan skandal terjadi saat kami singgah untuk istirahat di tengah perjalanan...
Pada meuli es krim Sarebuan (Rp.1.000) TEU NGEUNAH! hahahaha

SKANDAL GAY TERKUTUK! (wreched Gay, they're everywhere)

SAMPAINYA DI PANGANDARAN (sore hari)
aya nu aneh...

Ada yang pada maen tarik tambang, teubarisaeun!! hehehe


Bikin-bikinan yang geugeuleuhan!

 


Lucat-luncatan seperti monkey

Foto gagayaan, renang, dll...

SETELAH ITU KITA MAKAN BERSAMA DI PENGINAPAN...
MAKAN BERSAMA DI PINCUK TERUS DIALUNG-ALUNG...
INILAH KEBERSAMAAN MAKAN DI HANDAP BARENG NUNGGU DIBAGI

KEJADIAN-KEJADIAN DI KAMAR...
diperosotin

Di sinilah segi bokepnya, sare sambil self kokorobet (menyatroni calana sendiri)

ESOK HARINYA DI BATU KARAS...
teteh penyedia sewaan papan seluncur dan ban...

seluncur yang kesaatan...

ada yang kadon bermesraan...

ada Spongebob GEDE

Nangkring bareng

boker di pantai

brrrrrrwwwwwwuuuuuu

Gugulantungan monkey style

DI GREEN CANYON (setelah ibadah Jum'at di masjid Batu Karas. Kukuh hitut)
Menikmati pemandangan hijaunya sungai Green Canyon dengan paparahuan...

Morosotkeun calana si Dio

Bujal yang disandingkan dengan muka Cakra... sarua

MALAM HARINYA SETELAH KEMBALI KE PENGINAPAN...
berjudiiiiw

daheu dulu seafood...

emih teu paruguh...

api unggun, jagong bakar...


PAGI HARINYA. SAFARI MENUJU LAUT...
Naek parahu menuju Pasir putih... di sana bertemu:

bertemu monyet

bertemu uncal...

bertemu... sarua

bertemu... keluarga

Si mbah monyet, sungkem dulu mbah...

di sisi pantai lain...
haaaaaaaaaaaay

DAN KITA PUN BERANGKAT PULANG... MAKE PARAHU

ITULAH KEBERSAMAAN KITA..... Permib.
 

Foto-foto diambil dari album:
nuhun.....
Buka Lipatan...POV [UNRATED]